Belajar dari Misri Bunch: Jika Ada yang Meninggal

Percakapan tiba-tiba tadi malam.

Z: "Mas Zaki tahu ucapan kalau ada orang meninggal."
B: "Apa, Nak?"
Z: "Innalillahi wa inna ilaihi roji'un."
B: "Apa artinya?"
Z: "Mas Zaki nggak tahu bahasa Indonesianya. To Allah we belong and to him we shall return."

B: "Mas Zaki tahu dari mana?"
Z: "Misri Bunch."

Kadang-kadang, kita -eh- saya berpikir tentang kapan Zaki belajar.
Ternyata ia belajar kapan saja dan darimana saja.
Tak selalu duduk di depan meja.
Seperti dari film Misri Bunch ini.




Film ini bisa kita lihat juga di https://www.youtube.com/watch?v=ECCOy_WW8tA

Surat Zaki untuk Bunda

Zaki belum tertarik untuk menulis, tapi ia ingin menulis surat untuk Bunda.
Jadilah surat ini.
Bunda tersanjung.

Membantu Penyerbukan Buah Naga

Kegiatan Zaki sebagian besar adalah tanpa rencana.
Seperti ketika bunga buah naga mekar, maka kami belajar penyerbukan.
Zaki membantu penyerbukan buah naga di halaman rumah.

Zaki Memilih Bunda

Kemarin Zaki menyatakan keinginannya untuk belajar di TPA.
Walaupun kadang keinginannya ke TPA maju mundur dan berakhir dengan batal, saya tetap berusaha mendukung.
Berharap dia mendapatkan ilmu dari ahlinya.

Alhamdulillah, sampai saat ini masih saya yang diberi kesempatan untuk mengajar Zaki meskipun ilmu saya pas-pasan.
Tentu saja sambil dibantu rekaman murottal yang sudah ada.
Karena saya tak cukup percaya diri dengan kemampuan saya.

Setidaknya, saya tak harus mengeluh,"Habis kalau diajari ibunya susah!"
Atau,"Kalau saya yang ajari, nggak mau!"

Terima kasih ya, Nak.
Masih memberi kesempatan pada Ibumu yang miskin ilmu ini.

Perundungan (Bullying) - 2

Lagi-lagi soal bully.

Kemarin sore, menjelang waktu main di luar Zaki selesai, di jalan depan rumah terdengar suara anak-anak yang ramai.
Nada suara mereka terdengar kasar untuk telinga saya.


Saat saya keluar rumah untuk mengecek sekaligus memanggil Zaki pulang, tampak sekitar 6 - 8 orang anak berusia sekitar 9 - 12 tahun.
Saya tak kenal bahkan belum pernah melihat mereka sebelumnya.

Sampai di dalam rumah, saya tanya Zaki tentang mereka.

B: Siapa tadi, Nak? Bunda belum pernah lihat?
Z: (Menyebutkan tiga nama. Selebihnya tidak tahu) Itu anak-anak pembully, Bunda. Mereka sedang merencanakan membully Dz.

Dzaki itu tetangga depan rumah kami yang masih tergolong baru tinggal di sini dan baru pula jadi murid TPA di masjid.
Ada tiga anak di blok kami yang nama panggilannya Zaki dan berteman baik.

B: Kenapa Mas Zaki nggak cepat masuk rumah?
Z: Tadi Mas Zaki disuruh mereka panggil Dz. Kalau Mas Zaki nggak mau, nanti Mas Zaki digebuk. Katanya,"Kalau kamu nggak mau, nanti aku gebuk lho!". Jadi Mas Zaki ketuk pintu rumah dan panggil-panggil Dz. Tapi Dz nggak ada, padahal tadi ada.

Zaki bercerita dengan mata berkaca-kaca dan raut wajah tak nyaman.

B: Mas Zaki sedih, Nak? Mau bunda peluk?
Z: Mas Zaki nggak sedih, Mas Zaki takut.

‪#‎StopBullying‬

Perundungan (Bullying) - 1

Ternyata, kisah kekerasan itu masih ada.

Tadi siang sepulang dari shalat jum'at di masjid, Zaki bercerita.

Z: "Bunda, tadi teman Mas Zaki bully Mas Zaki. Tapi yang ini lebih parah."
B: "Mas Zaki diapain, Nak?"

Z: "Tadi Mas Zaki dicekik keras sama I. Rasanya sakit."
B: (Berusaha tenang sambil menahan sakit kepala yang tiba-tiba datang). "Kenapa kok Mas Zaki dicekik?"

Z: "Karena Mas Zaki nggak bawa sepeda. Jadi I marah. Katanya,'harusnya kamu bawa sepeda!' Terus dia mencekik."

Duh, begitu mudah teman Zaki melakukan kekerasan.
Hanya karena Zaki tidak membawa sepeda milik Zaki sendiri dan padahal sebelumnya tidak ada janji untuk bawa sepeda, Zaki dicekik dengan keras.

Mudah sekali kekerasan terjadi dengan alasan-alasan sederhana!

Kemudian Zaki melanjutkan ceritanya.

Z: "Mas Zaki juga pernah ditendang di sini sama N." (sambil menunjuk ke arah kemaluannya).

Tampaknya, kekerasan anak seperti gunung es.
Berita-berita kekerasan yang berujung kematian yang dilakukan oleh anak-anak, mungkin sudah jadi 'bagian' dari dunia anak-anak sekarang.

Bekal yang kami berikan kepada Zaki untuk menghadapi situasi seperti ini, tampaknya belum cukup.
Materi yang dipelajari Zaki di BrainPop juga belum cukup.

 http://www.brainpop.co.uk/psheandcitizenship/pshekeepingsafe/bullying/
http://www.brainpop.co.uk/psheandcitizenship/pshekeepingsafe/bullying/

Memang idealnya saya juga 'merangkul' teman-temannya.
Tapi, mereka lebih sering bertemu di halaman masjid di sekitar waktu mengaji dan shalat.
Jam sekolah yang panjang ditambah waktu di TPA membuat teman-teman Zaki yang tinggal di blok lain itu, jarang main ke rumah kami.

Semoga ada jalan untuk memperbaiki keadaan.
Agar bukan cuma jadi keluhan.

It takes a village to raise a kid.

Kalau Bunda Meninggal Duluan



Bicara serius berdua di angkot. Ngobrolin apa sih?

Ternyata menurut ayahnya, Zaki bertanya pada ayahnya,"Kalau bunda meninggal duluan, Mas Zaki sama siapa? Ayah kan kerja."

Mengalirlah kata-kata sepanjang sungai bahasan.
Sampai membahas tentang istri yang baik, poligami dan lain-lain.

Zaki serius mendengarkan.
Kira-kira dia paham nggak ya?